Studi Lanjut Master/S2 menjadi tren di masyarakat dalam hampir 2 dekade terakhir ini. Di Indonesia gelar pascasarjana lebih dikenal dengan S2. Berbicara tentang persepsi terhadap nilai gelar, ada fenomena menarik tentang persepsi masyarakat terhadap gelar akademik, khususnya pada jenjang magister atau S2. Jika di tahun sebelum 1990an, banyak pelajar yang hanya menuntaskan pendidikan tinggi hingga lulus S1. Namun menjelang tahun 2000, terjadi lonjakan yang tinggi dari jumlah mahasiswa yang memilih untuk langsung melanjutkan ke gelar pascasarjana setelah lulus sarjana. Hal ini disebabkan karena gelar S2 masih dianggap competitive advantages bagi pemiliknya. Ini juga didukung oleh Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 yang mensyaratkan seorang dosen harus bergelar minimal S2 untuk bisa menjadi tenaga pendidik (dosen) di program S1

Beragam motif mempengaruhi para lulusan sarjana (freshgraduate) untuk melanjutkan sekolah S2. Selain karena durasinya yang singkat dengan rata-rata program S2 di Indonesia dan luar negeri hanya memerlukan waktu 2 tahun, motif lainnya  juga disebabkan karena ingin mendalami jurusan yang diminati, menjadi Akademisi (dosen) hingga ingin lebih bisa bersaing didunia kerja. Sebagaimana keluaran dari suatu proses pendidikan, khususnya S1 & S2 adalah sumber daya manusia yang erat kaitannya dengan Tenaga kerja terdidik.

Seiring dengan bertambahnya jumlah lulusan S2 di masa sekarang, nilai persepsional terhadap gelar S2 akan menurun. Bagi para pemegang lulusan S2, kondisi ini mengakibatkan kompetisi yang semakin ketat. Lulusan S2 saling berkompetisi dengan lulusan S1 & S2 untuk mendapatkan pekerjaan, pengakuan (recognition), dan hak-hak khusus (privilege) yang melekat pada gelar tersebut. Dengan semakin banyaknya jumlah lulusan S2, Gelar S2 bukan lagi menjadi competitive advantage bagi pemegangnya, dan harus mencari faktor-faktor lain untuk bisa memenangkan persaingan. (lukito, 2013)

Tulisan ini ingin mengulas lebih jauh tentang, bagaimana Lulusan Sarjana S1 (freshgraduate non working experience) yang ingin berkarir dibidang non akademis, harus mengambil keputusan jika dihadapkan pada pilihan antara bekerja atau kuliah S2. Pemaparan tulisan ini berdasarkan studi teori & analisis data kebutuhan permintaan tenaga kerja di Indonesia. Pembahasannya ditinjau dari peluang kerja dan tingkat pendapatan yang membandingkan lulusan freshgraduate S1 dengan S2 (non working experience). .

Perbedaan Sarjana & Pasca Sarjana

Secara garis besar program S1 dan S2 memiliki perbedaan yang signifikan. Pada program S1 diarahkan untuk menguasai suatu disiplin ilmu atau metode berpikir dibidangnya dan bisa menerapkan ilmunya untuk persoalan yang generik atau umum yang sudah pernah diajarkan. Pada dunia kerja, lulusan program S1 lebih banyak menempati posisi-posisi di kantor pemerintahan dan perusahaan yang khusus ada di satu bidang seperti PLN untuk lulusan teknik elektro, Telkom untuk lulusan teknik informasika, dan sebagainya

Program pendidikan S2 lebih fokus dibandingkan program S1. Lulusan S2 sudah menguasai bidang penelitian dasar, mahasiswa S2 akan langsung memulai memperdalam bidang penelitian. Mengetahui permasalahan apa yang dihadapi, bagaimana menemukan pemecahannya, dan bagaimana membuktikan pemecahan itu benar lewat serangkaian percobaan dan penelitian.

Perbedaan jenjang S1 & S2 juga terdapat pada waktu tempuh studi, beban materi hingga kualifikasi dari lulusan.

  1. Waktu Tempuh Studi
    Durasi perkulihaan di S2 lebih singkat daripada S1. Rata-rata waktu tempuh studi S2 adalah 2 tahun dengan beban materi yang lebih berbobot daripada S1, sehingga beban mahasiswa S2 lebih tinggi karena dituntut untuk belajar lebih giat & cepat dengan materi lebih berat dalam waktu yang singkat
  2. Materi Perkuliahan
    Pada jenjang S2, pembahasan materi lebih spesifik & intensif daripada materi di S1. Materi dibahas mulai dari teori hingga cara implementasi teori dalam praktek sehari-hari
  3. Lulusan
    Lulusan S1 bergelar sarjana dan S2 adalah Master. Tugas Akhir mahasiswa S1 mengaplikasikan suatu metode untuk menyelesaikan sebuah persoalan, Tesis S2 mengembangkan metode yang spesifik agar dapat diaplikasikan untuk persoalan yang lebih luas. Sehingga Lulusan S2 dituntut tidak hanya memahami teori saja namun dapat menerapkan best practice dari keilmuan.

Kebutuhan Tenaga Kerja S1 & S2

Konteks kebutuhan (permintaan) dalam istilah ekonomi dapat didefinisikan sebagai jumlah barang/jasa yang dibutuhkan oleh pembeli pada jangka waktu tertentu (Baye, 2006). Jika lulusan perguruan tinggi adalah produk itu sendiri, maka pembeli adalah perusahaan/institusi atau masyarakat.. Dalam kaitan dengan tenaga kerja, maka permintaan tenaga kerja (lulusan) adalah hubungan antara variable tingkat upah dengan jumlah pekerja (Quantity) yang dibutuhkan oleh perusahaan. (sholeh, 2007)

Pada kondisi normal, kebutuhan tenaga kerja dari lulusan S1 & S2 seharusnya berbanding lurus dengan tingkat pendapatan, seperti dapat dilihat pada grafik berikut

Berdasarkan grafik diatas, maka semakin tinggi tingkat pendidikan (S2), penghasilan yang didapat lebih tinggi dibandingkan dengan lulusan S1. Dan dengan asumsi ini, kebutuhan lulusan perguruan tinggi untuk S2 lebih sedikit daripada lulusan S1. Hal ini disebabkan karena kebutuhan kompetensi tenaga kerja S2 memiliki korelasi dengan permintaan gaji yang lebih tinggi.  Dari data Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mencatat, saat ini ada 3.221 universitas dengan total mahasiswa 6,546,754 di seluruh Indonesia yang setiap tahunnya menghasilan rata-rata 750 ribu lulusan. Lulusan perguruan tinggi yang bekerja adalah sebesar 12,2%. Jumlah tersebut setara 14,57 juta dari 118,41 juta pekerja di seluruh Indonesia. Sementara pengangguran lulusan perguruan tinggi mencapai 11,19%, atau setara 787.000 dari total 7 % orang yang tidak memiliki pekerjaan. (Statistik, 2015)

Data tersebut mengindikasikan bahwa didunia kerja, tingkat pendidikan tidak begitu relevan terhadap kebutuhan kerja, karena menurut data statistic BPS di grafik berikut, fakta menunjukkan ada ketidaksesuaian antara tingkat pendidikan & penyerapan tenaga kerja.

Tabel 1 Tabel Angkatan Kerja

NoJenjang PendidikanRata – rata
presentase angkatan kerja
Rata – rata
pengangguran terbuka
 SD50.1%7 %
 SMP19 %14.9%
 SMA (umum)15 %20.8%
 SMK8.4 %21%
 S17.5 %*15,8%*
 S27.5 %*15,8%*

*akumulasi jumlah
**Sumber : Data diolah (Badan Pusat Statistik, 2016)

Data tersebut mengindikasikan bahwa jumlah prosentase angkatan kerja lulusan perguruan tinggi sangat kecil dibanding dengan presentase angkatan kerja jenjang lain. Ironisnya, pada jenjang perguruan tinggi menyumbang prosentase rata-rata tertinggi untuk pengangguran terbuka. Hal ini membuktikan bahwa memang ada faktor ketidaksesuaian (mismatch) tingkat pendidikan dan pekerjaan antara lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan tenaga kerja (industri).

Fakta ini juga didukung berdasarkan pernyataan oleh salah satu psikolog/praktisi yang memiliki spesialisasi di bidang talent management. Ada empat poin penting yang menjadi pertimbangan perusahaan dalam merekrut pekerja , yaitu:

  • Basic company bottom line-nya selalu mengenai profit, jadi biaya selalu ditekan. S2 umumnya meminta gaji lebih tinggi dari S1. Perusahaan berpikir jika bisa mendapatkan S1 yang dapat bekerja dengan bagus, kenapa harus hire S2 dengan cost yang lebih besar? Ini mungkin terkait juga dengan lulusan S2 yang belum dapat memberi perbedaan yang signifikan di dunia nyata pekerjaan.”
  • “Efek competency based talent management membuat perusahaan lebih fokus ke kualitas kompetensi, bukan level edukasi.”
  • “Perusahaan yang berbasis management trainee program untuk entry level merasa lebih bisa membentuk lewat program mereka sendiri daripada merekrut S2. Program tersebut terbuka untuk lulusan S1 maupun S2 tanpa ada perbedaan treatment tertentu.”
  • “Belum maksimalnya peran organisasi profesi. Ini berlaku pada profesi-profesi tertentu yang seharusnya diatur oleh organisasi profesi. Contoh yang baik adalah Ikatan Dokter Indonesia (IDI) selaku organisasi profesi dokter yang betul-betul berfungsi mengontrol peran dokter. Namun untuk profesi lain seperti psikolog ataupun akuntan belum maksimal.” (Garuda, 2016)

Pendapatan Tenaga Kerja Lulusan S1 & S2

Motif yang mendasari dan menjadi pertimbangan seseorang untuk bekerja adalah pendapatan. Tidak dipungkiri, semakin tinggi tingkat pendidikan dapat memberikan pendapatan yang lebih baik bagi pekerja. Berdasarkan grafik berikut, rata-rata penghasilan lulusan S1 (freshgraduate) adalah 4,8 Juta.

Tabel 2 Rata-rata Upah/Gaji Bersih Sebulan Pegawai Menurut Pendidikan Terakhir pada 2016

Sumber : Data diolah (Katadata, 2016)

Sesuai dengan data diatas, pendapatan yang diterima oleh lulusan S2 (freshgraduate non experience) seharusnya lebih tinggi daripada lulusan sarjana. Maka jika seorang freshgraduate (non experience) memutuskan untuk langsung melanjutkan pendidikan S2, variabel yang perlu dipertimbangkan selain variable pendapatan yaitu variabel biaya yang dikeluarkan untuk S2.

Asumsikan, jika pendidikan S2 adalah investasi karir, maka secara perhitungan ekonomis investasi tersebut dapat dihitung berdasarkan proyeksi keuntungan. Program studi S2 rata – rata terdiri dari 4 semester. Di dalam biaya kuliah S2, biasanya  terdapat biaya matrikulasi & biaya SPP Semeseter. Biaya kuliah S2 di Indonesia pada dasarnya bersifat flat, tidak sama dengan biaya kuliah program S1 yang dihitung berdasarkan jumlah SKS yang diambil. Sebagai contoh, berikut rincian biaya kuliah S2 pada salah satu Program Magister Universitas Negeri Ternama di Indonesia tahun 2017 :

Tabel 3 Biaya S2 2017

NoJenis BiayaJumlah
1Biaya PendaftaranRp.     750.000,-
2Biaya MatrikulasiRp. 17.000.000,-
3Biaya pendidikan semester IRp. 17.000.000,-
4Biaya pendidikan semester IIRp. 17.000.000,-
5Biaya pendidikan semester IIIRp. 17.000.000,-
 TotalRp. 68.750.000,-

Sumber : Admisi 2017

Pada table diatas, untuk menempuh program S2 Magister dibutuhkan total biaya sebesar IDR 68.750.000,-. Biaya tersebut adalah biaya pendaftaran, biaya SPP  dan  belum termasuk biaya buku serta biaya lainnya. Dari contoh ini, maka secara hitungan ekonomis, jika studi lanjut S2 adalah bagian dari investasi karir, maka pendapatan yang diperoleh setelah meraih gelar master harus lebih tinggi dibandingkan lulusan S1. Asumsikan terdapat 2 mahasiswa, 1 lulusan S1 & 1 lulusan S2  (freshgraduate) yang melamar pekerjaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) setelah menempuh pendidikan dan diterima bekerja menjadi PNS. Gaji pokok yang diperoleh oleh masing-masing sesuai dengan tingkat pendidikan adalah sebagai berikut

Tabel 4 Gaji Pokok Saat Baru Menjadi PNS

Tingkat PendidikanGolonganGaji Pokok
D3II/C1.962.000
S1III/A2.456.700
S2III/B2.560.600
S3III/C2.668.900

*masa kerja golongan = 0 tahun
** sumber : Qerja, 2016

Berdasarkan data gaji tersebut, dapat diketahui bahwa lulusan S2 mendapatkan gaji lebih tinggi dibandingkan lulusan S1. Selisih gaji pokok yang diterima sejumlah Rp. 103.900 atau sebesar 4.05% lebih tinggi daripada lulusan S1. Jika merujuk pada investasi dari biaya yang dikeluarkan ketika menempuh S2, didapat 661x selisih keuntungan dari gaji dibandingkan biaya pendidikan S2. Maka bisa disimpulkan, secara hitung-hitungan ekonomi, bagi yang ingin berkarir (non akademis) menempuh studi lanjut S2 langsung setelah lulus S1 bukan merupakan pilihan yang terbaik jika dibandingkan untuk bekerja terlebih dahulu.

Jadi S2 menjadi pilihan akselerasi karir yang tepat bagi lulusan sarjana untuk mengembangkan diri dan karir. Untuk bisa mendapatkan competitive advantage yang optimal dari manfaat menempuh program S2, maka lebih tepat jika didahulukan dengan pengalaman bekerja yang sesuai dengan minat, kompetensi dan prospek karir. Tulisan ini merekomendasikan bagi freshgraduate yang bertujuan berkarir  di bidang non akademis, untuk memiliki pengalaman bekerja dalam durasi waktu tertentu sebelum mengambil studi lanjut S2/Master

Rahasia TOEFL 550++
Dapatkan Tips & Trik cara menjawab soal-soal TOEFL dari Para Praktisi & Penerima Beasiswa dalam
We hate spam. Your email address will not be sold or shared with anyone else.

Passionate in digital marketing, business development and education.
Let’s making brighter future education and do something wonderful for Indonesia!

Leave a reply
Sudah nyaman bekerja, Kenapa harus S2?

Leave Your Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *